| Orang-orang Yahudi tercerai-berai dari tanah air
mereka dan timbul keperluan akan tersedianya Kitab Suci dalam
bahasa yang dikenal secara umum pada zaman itu. Septuaginta (berarti
tujuh puluh dan biasanya disingkat dengan menggunakan
bilangan Romawi LXX) adalah nama yang diberikan kepada terjemahan
Kitab Suci Ibrani dalam bahasa Yunani pada masa pemerintahan raja
Mesir bernama Ptolemy Philadelphia (285-246 S.M.).
F.
F. Bruce
memberikan penuturan menarik tentang asal-usul pemberian nama
terjemahan ini. Tentang sebuah surat yang dimaksudkan untuk
ditulis pada sekitar tahun 250 S.M. (secara lebih realistik tidak
lama sebelum tahun 100 S.M.) oleh Aristeas, pegawai istana Raja
Ptolemy, kepada saudaranya bernama Philocrates, Bruce mengatakan:
Ptolemy dikenal sebagai teladan kesusasteraan
dan ketika berada di bawah kekuasaannyalah bahwa perpustakaan
besar di Iskandariyah, salah satu keajaiban budaya dunia
selama 900 tahun, diresmikan.
Surat tersebut menguraikan bagaimana Demetrius dari
Phalerum, yang dikatakan telah bertugas sebagai pegawai
perpustakaan Ptolemy, membangkitkan minat raja terhadap Hukum
Yahudi dan memberikan nasihat kepadanya untuk mengirim utusan
kepada imam besar Eleazar di Yerusalem. Imam besar itu memilih
sebagai penerjemah enam orang tua-tua dari setiap suku dari
keduabelas suku Israel dan mengirim mereka ke Iskandariyah, dengan
membawa perkamen yang sangat tepat dan indah berisi Taurat.
Tua-tua itu dijamu sebagai tamu raja dengan makanan istana
lengkap dengan minuman anggurnya, dan membuktikan kehebatan
hikmat mereka dalam berdebat; lalu mereka menetapkan tempat
tinggal sementara mereka di pulau Pharos (pulau yang dalam hal
lain terkenal karena mercu suarnya), di sana selama tujuhpuluh dua
hari mereka menyelesaikan tugas mereka untuk menerjemahkan
Pentateukh ke dalam bahasa Yunani, dengan menyerahkan versi yang
disetujui sebagai hasil konferensi dan usaha membanding-bandingkan.
LXX, yang dinilai sangat dekat dengan teks
Massoretis ( 916 M.) yang kita miliki saat ini, menolong kita
untuk mengokohkan kejujuran penyalurannya dalam masa 1,300 tahun.
Penyimpangan terbesar LXX dari teks Massoretis adalah kitab
Yeremia.
Kutipan-kutipan LXX dan alkitabiah yang
ditemukan dalam kitab-kitab Apokrif Ecclesiasticus, Kitab Jubilee,
dsb., memberikan bukti bahwa teks Ibrani yang ada saat ini
sungguh-sungguh sama dengan teks yang ada padav sekitar tahun 300
S.M.
Geisler dan Nix,
dalam karya mereka yang paling bermanfaat berjudul A
General Introduction to the Bible (Pengantar Umum kepada
Alkitab) menyajikan empat sumbangsih penting Septuaginta. [1]
Septuaginta menjembatani jurang pemisah agamawi di antara
orang-orang yang berbahasa Ibrani dan yang berbahasa Yunani,
karena terjemahan tersebut memenuhi kebutuhan orang-orang Yahudi
Iskandariyah, [2] Septuaginta menjembatani jurang pemisah historis
antara Perjanjian Lama Ibrani milik orang-orang Yahudi dengan
orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani yang mau menggunakannya
bersama-sama dengan kitab Perjanjian Baru mereka, [3] dan
Septuaginta itu menjadi contoh bagi para utusan Injil untuk
membuat terjemahan Kitab Suci ke dalam pelbagai bahasa dan suku
bahasa; [4] Septuaginta menjembatani jurang pemisah kritik
tekstual melalui kesesuaiannya yang demikian menakjubkan dengan
teks Perjanjian
Lama Ibrani (Aleph, A, B, C, dst.).
F.
F. Bruce
memberikan beberapa alasan mengapa orang-orang Yahudi kehilangan
minat mereka pada Septuaginta:
- .
. . Dari abad pertama Masehi dan seterusnya orang-orang
Kristen menerimanya sebagai versi Perjanjian Lama mereka dan
menggunakannya secara bebas dalam menyebarluaskan dan
mempertahankan iman Kristen.
- Alasan
lain mengapa orang-orang Yahudi kehilangan minat mereka kepada
Septuaginta terletak pada kenyataan bahwa pada sekitar tahun
100 M. diresmikanlah teks baku yang diperbaiki oleh para
cendekiawan Yahudi. . . .
|