Tes Eksternal Kejujuran Kitab Suci

MENDUKUNG KEBENARAN

 “Apakah bahan-bahan sejarah memberikan penegasan atau penyangkalan kepada kesaksian internal yang tersedia dalam dokumen-dokumen itu sendiri?”

Dengan kata lain, sumber-sumber apa sajakah yang tersedia selain karya tulis yang sedang diteliti itu yang dapat memberikan dukungan tentang ketepatan, kejujuran dan kewibawaannya?

BUKTI PENDUKUNG PENGARANG LUAR ALKITAB 
Eusebius, dalam bukunya berjudul Ecclesiastical History III.39 (Sejarah Gereja III.39), mengabadikan karya-karya Papias, bisop Heirapolis (130 M.) yang diterima Papias dari Penatua (rasul Yohanes):
“Sang Penatua biasa mengucapkan ini juga: ‘Markus, sebagai penerjemah Petrus, menuliskan secara tepat semua yang disebutkannya (Petrus), baik tentang kata-kata Kristus maupun perbuatan-Nya, namun tidak secara teratur. Karena ia bukan pendengar maupun seorang yang mengikuti Tuhan; namun sesudah itu, sebagaimana telah saya katakan, ia menemani Petrus, yang menyesuaikan ajaran-ajarannya pada saat diperlukan, tidak seolah-olah ia harus membuat pengumpulan tentang kata-kata Tuhan. Dengan demikian Markus tidak membuat kesalahan, sebab ia menuliskan dengan cara ini pada saat hal-hal yang dicatatnya itu diucapkannya (Petrus); karena ia memperhatikan satu hal ini, tidak membuang apa saja yang telah didengarnya, tidak memasukkan pernyataan-pernyataan yang salah di antara yang didengarnya itu.”

Papias juga memberikan komentar tentang Injil Matius: “Matius mencatat ucapan-ucapan (Yesus, red.) dalam bahasa Ibrani (yakni rumpun bahasa Aram).”

Irenaeus, Bisop Lyons (180 M.), yang pernah menjadi murid Polikarpus, Bisop Smyrna; yang mati syahid pada tahun 156 M., menjadi orang Kristen selama 86 tahun, dan adalah murid Rasul Yohanes. Ia menulis:
“Sangat kuat dasar yang menjadi tumpuan keempat Injil ini, sehingga penyesat-penyesat sendiri memberikan kesaksian tentang Injil itu, dan, bermula dari (dokumen-dokumen) ini masing-masing dari mereka berusaha membangun ajaran tertentu” (Against Heresies III).

Keempat Injil itu telah demikian jelas di dunia Kristen sehingga Irenaeus dapat mengacu padanya [keempat Injil] sebagai fakta yang mapan dan diakui seperti halnya keempat penjuru angin pada kompas:
“Karena seperti halnya ada empat bagian yang sama dari dunia tempat tinggal kita ini, dan ada empat mata angin yang bersifat universal, dan ketika Gereja tersebar ke seluruh muka bumi, sementara Injil adalah tiang turus dan dasar bagi Gereja dan nafas hidupnya, maka wajarlah apabila Gereja harus memiliki empat soko guru, menghembuskan keabadian melalui keempat sisinya masing-masing dan menyalakan kehidupan yang baru pada manusia. Dari situlah terbukti bahwa Firman, yang merupakan insinyur untuk segala sesuatu, yang bertahta di atas para kerub dan mengikat segala sesuatu menjadi satu, sesudah dinyatakan kepada manusia, telah memberikan Injil kepada kita dalam empat bentuk, namun keempat-empatnya diikat oleh satu Roh.

“Matius menghasilkan Injilnya,” demikian uraian Irenaeus selanjutnya, “di kalangan bangsa Ibrani (yang dimaksudkannya adalah orang-orang Yahudi) dalam bahasa mereka sendiri, sementara Petrus dan Paulus mengkhotbahkan Injil di Roma dan membangun gereja di sana. Sesudah keberangkatan mereka (yakni kematian, yang menurut tradisi yang sangat kuat, pada masa terjadinya penganiayaan oleh raja Nero pada tahun 64 M.), Markus sendiri, yang adalah murid dan penerjemah Petrus, meneruskan kepada kita dalam bentuk tertulis isi khotbah Petrus. Lukas, pengikut Paulus, menyimpan dalam sebuah kitab berita Injil yang dikhotbahkan gurunya. Kemudian murid Tuhan kita, yang juga bersandar pada dada-Nya (ini merujuk pada Yohanes 13:25 dan 21:20), Yohanes sendiri menulis Injilnya, ketika ia tinggal di Efesus di Asia.”

Clement  dari Roma (95 M.) menggunakan Kitab Suci sebagai kitab yang dapat dipercaya dan benar.

Ignatius (70-110 M.). Ia adalah Bisop Antiokhia dan mati syahid demi imannya kepada Kristus. Ia mengenal semua rasul dan adalah murid Polikarpus, sedangkan Polikarpus sendiri adalah murid rasul Yohanes.

Elgin Moyer dalam bukunya berjudul Who Was Who in Church History (Mengenal Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja) menulis bahwa Ignatius “sendiri mengatakan, lebih baik aku mati bagi Kristus daripada memerintah seluruh dunia. Berikan aku kepada binatang-binatang buas sehingga melalui binatang-binatang itu aku menjadi pengambil bagian di dalam Tuhan. Dikatakan bahwa ia dilemparkan ke tengah-tengah kawanan binatang buas di arena stadion besar di Roma. Surat-surat kirimannya ditulis dalam perjalanannya dari Antiokhia menuju Roma tempat ia mati syahid.

Ignatius memberikan pengakuan kepada Kitab Suci dengan cara ia mendasarkan imannya pada ketepatan Alkitab. Ia memiliki bahan-bahan dan bukti yang demikian banyak untuk menemukan kejujuran Alkitabiah.

Polikarpus (70-156 M.) adalah murid Yohanes dan mati syahid pada umur 86 tahun karena baktinya yang pantang surut kepada Kristus dan Kitab Suci. Kematian Polikarpus menunjukkan bahwa ia mengandalkan ketepatan Kitab Suci. “Pada sekitar tahun 155, dalam masa pemerintahan Antonius Pius, ketika terjadi penganiayaan setempat di Smyrna dan beberapa warganya telah mati syahid, ia dipilih sebagai tokoh Gereja, dan terkenal karena ia mati syahid. Ketika diminta untuk meninggalkan kepercayaannya agar diberi hak hidup, dikatakan bahwa ia memberikan jawabannya dengan berkata, ‘Delapan puluh dan enam tahun aku telah melayani-Nya, dan Dia tidak pernah melakukan kesalahan kepadaku. Bagaimana mungkin aku dapat mengatakan sesuatu yang jahat terhadap Rajaku yang telah menyelamatkan diriku?’ Ia diikat pada tiang lalu dibakar, ia mati syahid sebagai pahlawan demi imannya.” Ia tentu memiliki banyak kontak untuk mengenal kebenaran.

Flavius Josephus – seorang sejarawan Yahudi.

Perbedaan-perbedaan di antara kisah Josephus tentang baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dengan kisah yang sama yang tertera dalam Injil adalah bahwa Josephus mengatakan baptisan Yohanes itu bukan untuk pengampunan dosa, sementara Alkitab (Markus 1:4) mengatakan bahwa baptisan itu untuk pengampunan dosa; dan bahwa Yohanes dibunuh karena alasan-alasan politik dan bukan karena tegurannya agar Herodes mengakhiri perkawinannya dengan Herodias. Seperti yang dinyatakan Bruce, sangat besar kemungkinannya bahwa Herodes yakin ia dapat membunuh dua ekor burung dengan sebuah batu dengan cara memasukkan Yohanes ke dalam penjara. Dalam hubungan dengan kekeliruannya tentang baptisan Yohanes, Bruce mengatakan bahwa keempat versi Injil memberikan penuturan yang lebih dapat dipercaya tentang hal itu dari sudut pandang “historis-agamawi” dan keempat versi itu berumur lebih tua daripada karya Josephus sehingga kisah di dalam Injil itu lebih tepat. Namun, masalah yang sesungguhnya adalah bahwa kerangka umum kisah dalam buku karya Josephus itu memperkokoh  kisah yang ada di dalam keempat versi Injil itu.

Dalam Ant. XVIII.5.2, Josephus mengupas tentang Yohanes Pembaptis. Karena cara bagian ini ditulis, maka tidak ditemukan dasar untuk mencurigai adanya penambahan atau pengurangan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen terhadap teks. Dalam bagian ini kita dapat membaca hal berikut:
“Adapun beberapa orang Yahudi berpikir bahwa tentera Herodes telah dibinasakan Tuhan, dan hal itu sebagai hukuman yang adil sebagai pembalasan atas tindakan yang telah dilakukannya terhadap Yohanes, yang diberi gelar Pembaptis. Karena Herodes telah membunuhnya, walaupun ia adalah orang baik, yang menasihati orang-orang Yahudi untuk melakukan kebajikan, saling berlaku adil dan taat terhadap Tuhan, dan bersama-sama datang untuk dibaptiskan. Ia mengajarkan bahwa baptisan itu diterima oleh Allah asalkan mereka mengalaminya tidak untuk memperoleh pengampunan atas dosa-dosa tertentu, namun untuk penyucian badan, jika jiwanya telah disucikan oleh kebenaran. Dan pada saat orang-orang lain berkumpul di sekitarnya (karena mereka sangat tergerak ketika mendengar kata-katanya), Herodes takut bahwa kemampuannya untuk mempengaruhi orang, karena ia demikian hebat, dapat menyebabkan pemberontakan, karena nampaknya mereka siap untuk mengikuti nasihatnya dalam segala hal. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa adalah jauh lebih baik jika ia menangkap dan membunuhnya sebelum ia menimbulkan huru-hara, daripada kelak harus bertobat karena jatuh ke dalam kesulitan yang ditimbulkan oleh pemberontakan. Karena kecurigaan Herodes ini, maka Yohanes dikirim ke Makhaerus dalam keadaan dirantai, suatu benteng yang telah kami sebutkan di atas, dan di sanalah ia akan dibunuh. Orang-orang Yahudi percaya bahwa demi memberikan pembalasan kepadanyalah maka terjadi bencana yang diderita oleh tenteranya, Allah bermaksud untuk membawa sesuatu yang jahat atas diri Herodes.”

Tatian (170 M.) menyusun Kitab Suci untuk menempatkan kitab-kitab itu di dalam “keselarasan keempat Injil” untuk pertama kalinya, yang disebut Diatessaron.

Bukti Naskah PB ] Perbandingan PB ] Kronologi Penting PB ] Dukungan Pelbagai Versi ] Dukungan Bapa Gereja ] Dukungan Bagian Alkitab ] Sikap Ahli Talmud ] Periode Massoretis ] Kesaksian Laut Mati ] Keaslian Teks Ibrani ] Dukungan Teks-teks Lain ] Manfaat Keraguan ] Kompetensi Sumber Utama ] [ Tes Eksternal ] Bukti Arkeologis ] Contoh Bukti Arkeologis ] Kesimpulan ]

© 1999-2000 Campus Crusade for Christ International

Last Updated: 11 July, 2006