Penegasan oleh Arkeologi

BUKTI ARKEOLOGIS

 Nelson Glueck, seorang arkeolog Yahudi yang terkenal, menulis: “Dapat dinyatakan secara mutlak  bahwa tidak pernah ada penemuan arkeologis yang bertentangan dengan satu pun  rujukan alkitabiah.” Ia melanjutkan penegasannya, “kemampuan historis Alkitab demikian tepat sehingga hampir-hampir mustahil dapat dipercaya, dan khususnya jika hal itu dibentengi oleh fakta arkeologis.”

William F. Albright, yang terkenal karena nama baiknya sebagai salah satu arkeolog besar, menyatakan: “Tidak mungkin ada keragu-raguan lagi bahwa arkeologi telah mengokohkan kebenaran historis yang sangat kuat tentang tradisi Perjanjian Lama.”

Albright menambahkan: “Sikap curiga secara berlebihan terhadap Alkitab –yang ditunjukkan oleh kelompok-kelompok berpengaruh peneliti aspek historis Alkitab dari abad delapan belas dan sembilan belas– telah makin disangsikan, walaupun tahap-tahap tertentu daripadanya secara berkala masih muncul. Penemuan demi penemuan telah meneguhkan ketepatan hal-hal rinci yang tidak terhingga banyaknya, dan telah menyebabkan pengakuan yang makin bertambah-tambah terhadap nilai Alkitab sebagai sumber sejarah.”

John Warwick Montgomery mengungkapkan masalah khas yang dimiliki oleh banyak sarjana pada dewasa ini: “Peneliti dari Institut Amerika untuk Penelitian tentang Tanah Suci bernama Thomas Drobena memberikan peringatan bahwa masalah-masalah yang nampaknya diperdebatkan oleh arkeologi dan Alkitab hampir selalu menyangkut tahun penulisan. Ini adalah bidang yang paling lemah dalam dunia arkeologi masa kini dan sebagai suatu masalah yang sering diputuskan tidak berdasarkan analisis empirik murni melainkan berdasarkan pandangan A PRIORI para ilmuwan dan alasan tidak langsung.”

Profesor H. H. Rowley (dikutip oleh Donald F. Wiseman dalam bukunya berjudul Revelation and the Bible [Pewahyuan dan Alkitab]) menyatakan bahwa “mereka mempunyai penghargaan yang jauh lebih tinggi terhadap kisah-kisah Cikal-bakal bangsa Israel itu dibandingkan penghargaan sebelumnya yang sudah umum. Hal itu tidak disebabkan oleh karena sarjana moderen memulai penelitian mereka dengan praduga-praduga yang lebih konservatif dibandingkan dengan sarjana-sarjana pendahulu mereka, melainkan karena bukti yang ada telah memberikan jaminan atas penghargaan tersebut.”

Merrill Unger menyatakan: “Peranan yang sedang dilakukan oleh arkeologi dalam penelitian tentang Perjanjian Baru (demikian juga dalam penelitian tentang Perjanjian Lama) dalam mempercepat penelitian ilmiah, mempertimbangkan teori yang kritis, memberikan ilustrasi, memberikan penjelasan, memberikan tambahan dan membuktikan keaslian latar belakang historis dan budaya, menyediakan satu bidang yang sangat terang bagi masa depan penelitian teks Suci tersebut.”

Millar Burrows dari Yale menyatakan hasil pengamatannya: “Arkeologi dalam banyak hal telah memberikan bantahan terhadap pandangan-pandangan para peneliti moderen. Telah ditunjukkannya dalam beberapa kesempatan bahwa pandangan-pandangan ini didasarkan pada anggapan-anggapan yang salah dan rancangan-rancangan pengembangan historis yang tidak benar dan dibuat-buat (AS 1938, h. 182). Ini adalah sumbangsih yang nyata, dan tidak boleh dipandang remeh.”

F. F. Bruce memperhatikan: “Dalam hal-hal tertentu, Lukas dicurigai bahwa ia telah menuliskan sesuatu secara tidak tepat. Justru ketepatanlah yang telah didukung oleh adanya beberapa bukti dalam bentuk prasasti. Oleh karena itu, mungkin dapat dianggap sah untuk mengatakan bahwa arkeologi telah memberikan pembenaran atas dokumen Perjanjian Baru.”

Bruce menambahkan bahwa “sebagian besar dari apa yang telah dilakukan oleh arkeologi terhadap penelitian atas Perjanjian Baru adalah pengisian rangkuman tentang latar belakang sezamannya. Hal ini memberikan dukungan kepada kita untuk dapat membaca dokumen tersebut dengan pemahaman dan penghargaan yang lebih tinggi. Dan latar belakang ini adalah latar belakang abad pertama. Hikayat dalam Perjanjian Baru itu tidak akan sesuai jika diberi latar belakang abad kedua.”

Merrill Unger menyimpulkan: “Arkeologi Perjanjian Lama telah menemukan kembali segala bangsa, membangkitkan orang-orang penting, dan dalam cara yang paling menakjubkan mengisi celah-celah sejarah, dengan menambahkan unsur-unsur yang tidak terhingga banyaknya kepada pengetahuan tentang pelbagai latar belakang alkitabiah.”

William Albright melanjutkan: “Pada saat penelitian kritis atas Alkitab makin dipengaruhi oleh materi baru yang demikian berlimpah yang berasal dari Timur Dekat kuno (saat ini wilayah yang meliputi negara-negara Balkan, Republik Kesatuan Arab dan Asia Barat Daya, red.), maka kita akan memperhatikan adanya penghargaan yang terus meningkat kepada nilai penting aaspek historis bab-bab dan bagian-bagian rinci Perjanjian Lama dan Baru yang kini diabaikan dan tidak disukai.”

Burrows mengungkapkan penyebab adanya demikian banyak ketidakpercayaan: “Ketidakpercayaan di kalangan demikian banyak teolog liberal tidak bersumber pada penilaian yang cermat atas data yang tersedia, melainkan dari kerentanan mereka yang sangat besar untuk menentang hal-hal yang bersifat adi-kodrati.”

Arkeolog Yale itu menambahkan kepada pernyataannya itu sebagai berikut: “Tetapi, secara keseluruhan, usaha arkeologis tanpa diragukan telah memperkuat keyakinan pada kejujuran dokumen Kitab Suci itu. Lebih dari seorang arkeolog telah menyadari bahwa penghargaannya kepada Alkitab bertambah besar oleh karena pengalaman dalam mengadakan penggalian benda-benda purbakala di Palestina.”

“Pada umumnya, bukti sejenis yang telah dihasilkan oleh arkeologi sejauh ini –terutama dengan menyediakan lebih banyak naskah kitab-kitab yang menjadi bagian Alkitab, yang juga merupakan naskah-naskah yang lebih tua– memperkuat  keyakinan kita terhadap ketepatan yang olehnya teks itu telah disalurkan kepada kita melalui masa berabad-abad.”

Sir Frederic Kenyon mengatakan: “Oleh karena itu, adalah beralasan untuk mengatakan bahwa, dalam hubungan dengan bagian Perjanjian Lama yang menjadi sasaran utama kritikan pada paruh kedua abad kesembilan belas yang mengalami proses disintegrasi, bukti arkeologis telah mengokohkan kembali wewenangnya, dan juga memperbesar nilainya dengan cara menerjemahkannya secara lebih jelas melalui pemahaman yang lebih lengkap tentang latar belakang dan tempat terjadinya peristiwa dalam bagian tersebut. Arkeologi belum memberikan kata terakhirnya; namun hasil-hasil yang telah dicapainya memberikan peneguhan pada apa yang akan disarankan oleh iman, yakni bahwa Alkitab tidak dapat berbuat apa-apa selain memperoleh keuntungan dari pengetahuan yang makin bertambah lengkap itu.”

Arkeologi telah menghasilkan bukti-bukti secara berlimpah untuk membuktikan ketepatan teks Massoretis kita.

Bernard Ramm menulis tentang Jeremiah Seal (Meterai Yeremia) sebagai berikut: “Arkeologi juga telah memberikan bukti kepada kita tentang teks Massoret kita yang memang benar-benar tepat. Jeremiah Seal –sejenis cap yang ditekankan pada bahan semacam aspal untuk memeteraikan tempayan minuman anggur demi menjamin keaslian isinya, yang berasal dari abad pertama atau kedua Masehi– memuat Yeremia 48:11 yang dicapkan padanya dan, pada umumnya, sesuai dengan teks Massoret. Cap ini ‘ . . . membuktikan ketepatan yang olehnya teks itu telah disalurkan di antara waktu ketika cap itu dibuat dan waktu ketika naskah-naskah itu ditulis.’ Selanjutnya, Papirus Roberts, yang berasal dari abad kedua Sebelum Masehi, dan Papirus Nash, yang menurut penetapan Albright berasal dari tahun 100 S. M., memberikan pengukuhan kepada teks Massoret kita.”

William Albright menegaskan bahwa “kita dapat memiliki kepastian bahwa teks Alkitab Ibrani yang terdiri dari huruf-huruf mati, walaupun tidak pasti, telah terpelihara disertai ketepatan yang mungkin tiada taranya di antara sastera apa saja yang berasal dari wilayah Timur Dekat. . . . Tidak, terang yang demikian besar yang saat ini sedang diarahkan kepada puisi alkitabiah Ibrani dari segala zaman oleh sastera Ugarit (kota kuno Suriah yang letaknya sama dengan kota moderen Ras Shamra) menjamin komposisinya yang bersifat kuno dan juga ketepatan penyalinannya yang menakjubkan.”

Arkeolog Albright menulis tentang ketepatan Kitab Suci sebagai hasil penemuan arkeologis:“Isi Pentateukh kita, secara umum, adalah jauh lebih tua dibandingkan dengan tahun ketika pada akhirnya dilakukan penyuntingan atasnya; penemuan-penemuan baru terus mengokohkan ketepatan historisnya atau umur sasteranya yang demikian kuno berdasarkan bagian kecil demi bagian kecil yang ada di dalamnya. . . . Akibatnya, menyangkali kebenaran tokoh Musa yang disebutkan dalam tradisi Pentateukh semata-mata hanya merupakan kritik yang sangat berlebihan.”

Albright mengulas apa yang biasa diucapkan oleh para pengritik: “Sampai saat baru-baru ini telah menjadi pola di kalangan para ahli sejarah alkitabiah untuk memperlakukan hikayat cikal bakal bangsa Israel yang terdapat dalam kitab Kejadian itu seolah-olah sebagai hasil rekaan semu para ahli kitab bangsa Israel dari Kerajaan Yang Terpecah itu atau kisah yang diceriterakan oleh ahli rapsodi pengkhayal di sekeliling api unggun di sekitar perkemahan pada abad-abad sesudah mereka menduduki negeri itu. Dapat disebutkan nama-nama besar di kalangan para sarjana yang memandang bahwa setiap hal dalam Kejadian 11-50 mencerminkan rekayasa yang dihasilkan pada tahun-tahunbelakangan. Atau sekurang-kurangnya sebagai perkiraan tentang peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan pada zaman Kerajaan tersebut sampai ke masa sebelumnya yang sangat jauh ke belakang, Dan tidak ada sesuatupun dalam kurun waktu itu yang dapat dibayangkan sebagai hal yang sungguh-sungguh diketahui oleh penulis-penulis yang hidup pada zaman-zaman sesudahnya.” 

Sekarang segala sesuatu telah berubah, kata Albright: “Penemuan-penemuan arkeologis sejak tahun 1925 telah mengubah semuanya ini. Selain beberapa orang di antara sarjana-sarjana terdahulu yang berkeras hati, jarang sekali ada seorang ahli sejarah Alkitab yang belum terkesan oleh pengumpulan data yang demikian cepat, yang mendukung kebenaran sejarah tradisi cikal bakal Israel. Menurut tradisi-tradisi kitab Kejadian, nenek moyang bangsa Israel berhubungan erat dengan bangsa-bangsa setengah pengembara yang hidup di Seberang-Yordan, Suriah, lembah Efrat dan Arabia Utara pada abad-abad akhir milenium kedua Sebelum Kristus, dan abad-abad pertamulaan milenium pertama.

Millar Burrows melanjutkan: “Untuk dapat memahami suatu keadaan dengan jelas, kita harus dapat membedakan dua macam pengesahan, pengesahan umum dan pengesahan khusus. Pengesahan umum berkaitan dengan masalah kesesuaian pokok-pokok tertentu tanpa usaha yang jelas untuk memberikan bukti tambahan. Dari antara hal-hal yang telah dibicarakan di sini sebagai penjelasan dan ilustrasi banyak yang dapat juga dipandang sebagai pengesahan secara umum. Gambar yang ada sesuai dengan bingkainya; melody dan musik pengiringnya selaras. Kekuatan dari bukti seperti itu terus bertambah banyak. Makin banyak yang kita temukan, bahwa hal-hal tentang masa lalu yang tercantum dalam gambar yang disajikan oleh Alkitab itu sesuai dengan apa yang kita ketahui dari arkeologi –walaupun tidak secara langsung dibuktikan kebenarannya– kesan kita tentang kewibawaan Alkitab secara umum semakin kuat pula. Legenda atau khayalan murni tanpa dapat dihindari akan menyangkali dirinya sendiri karena adanya anakronisme (kesalahan tahun) dan kejanggalan-kejanggalan yang ada di dalamnya.

Bukti Naskah PB ] Perbandingan PB ] Kronologi Penting PB ] Dukungan Pelbagai Versi ] Dukungan Bapa Gereja ] Dukungan Bagian Alkitab ] Sikap Ahli Talmud ] Periode Massoretis ] Kesaksian Laut Mati ] Keaslian Teks Ibrani ] Dukungan Teks-teks Lain ] Manfaat Keraguan ] Kompetensi Sumber Utama ] Tes Eksternal ] [ Bukti Arkeologis ] Contoh Bukti Arkeologis ] Kesimpulan ]

© 1999-2000 Campus Crusade for Christ International

Last Updated: 11 July, 2006