| Prosedur
Penetapan Tahun Penulisan:
Beberapa faktor yang menolong kita untuk menetapkan
umur naskah adalah:
1.
Bahan naskah
2. Ukuran dan bentuk
huruf
3.
Tanda baca
4.
Pembagian teks
5. Cara menghiasi
6. Warna tinta
7. Kualitas dan bentuk bahan
Naskah John
Rylands (130 M.) disimpan di John Rylands Library,
Manchester, England (serpihan tertua Perjanjian Baru yang
masih bertahan). Karena usianya yang demikian tua dan tempat
ditemukannya (Mesir) yang cukup jauh dari tempat penulisan yang
telah disepakati secara tradisional (Asia Kecil), bagian Injil
Yohanes ini cenderung untuk mengokohkan tahun penulisan Injil
tersebut yang telah disepakati secara tradisional yaitu sekitar
akhir abad pertama.
Bruce
Metzger berbicara
tentang penelitian yang mati: Andaikan serpihan kecil ini telah
dikenal pada sekitar pertengahan abad yang lalu, maka kelompok
peneliti Perjanjian Baru yang diinspirasi oleh dosen Tubingen,
bernama Ferdinand Christian Baur, yang sangat pandai itu tidak
akan dapat mempertahankan pendapat mereka bahwa Injil Keempat itu
belum tertulis sampai sekitar tahun 160 M.
Papirus
Bodmer II
(150-200 M.) disimpan di Bodmer Library of World Literature dan
berisi sebagian besar dari tulisan Yohanes.
Bruce Metzger mengatakan bahwa naskah ini adalah
hasil penemuan terpenting naskah-naskah Perjanjian Baru sejak
terbelinya papirus Chester Beatty. . . .
Dalam artikelnya Zur
Datierung des Papyrus Bodmer II (P66),
Anzeiger der osterreichischen Akademie der Wissenschaften,
phil.-hist, kl., 1960, Nr.4, h. 12033, Herbert Hunger, direktur
bagian penyimpanan papirus di Perpustakaan Nasional di Vienna,
menetapkan tahun penulisan 66
tahun lebih awal, di tengah-tengah apabila bukan bahkan di paruh
pertama abad kedua; periksa sendiri sedapat mungkin artikelnya.
Papirus
Chester Beatty
(200 M.) disimpan di C. Beatty Museum di Dublin dan sebagian
dimiliki oleh Universitas Michigan. Koleksi ini berisi kodeks
papirus, tiga di antaranya memuat bagian-bagian utama Perjanjian
Baru.
Dalam bukunya The
Bible and Modern Scholarship(Alkitab dan pengetahuan modern),
Sir Frederic Kenyon mengatakan, Hasil bersih penelitian ini
penelitian terpenting sejak penemuan kodeks Sinaitcus
sesungguhnya memperkecil tenggang waktu antara naskah-naskah yang
lebih tua itu dengan tahun-tahun penulisan kitab-kitab Perjanjian
Baru yang telah diterima secara tradisional selama ini sehingga
tenggang waktu itu dapat diabaikan pada diskusi-diskusi yang
diadakan tentang keasliannya. Tidak ada buku kuno lainnya memiliki
kesaksian tentang teksnya sendiri setua dan sebanyak itu, dan
tidak akan ada cendekiawan yang tidak berfihak dapat menyangkali
bahwa teks yang telah sampai kepada kita itu sungguh-sungguh dapat
dipercaya.
Diatessaron:
berarti keselarasan dari empat bagian. Kata Yunani dia
Tessaron secara harafiah berarti melalui empat. Ini
adalah buku tentang keselarasan keempat Injil karya Tatian (sekitar
160 M.).
Eusebius
dalam bukunya berjudul Ecclesiastical
History, IV, 29 Loeb ed., 1, 397, menulis: . . . Mantan
pemimpin mereka bernama Tatian mengarang suatu gabungan dan
kumpulan Injil, dan menamainya THE
DIATESSARON, dan buku ini masih dapat ditemukan di beberapa
tempat. . . . Diyakini bahwa Tatian, orang Kristen berdarah
Suriah, adalah orang pertama yang telah menulis sebuah kitab
tentang keselarasan Injil; hanya sebagian kecil dari karyanya itu
yang masih bertahan sampai saat ini.
Codex
Vaticanus
(325-350 M.), disimpan di Vatican Library, berisi hampir semua
bagian Alkitab.
Codex
Sinaiticus
(350 M.) disimpan di British Museum. Naskah yang berisi hampir
semua Perjanjian Baru dan lebih dari setengah bagian Perjanjian
Lama, ditemukan oleh Dr. Constantin Von Tischendorf di Biara
Gunung Sinai pada tahun 1859, yang dipersembahkan oleh Biara
tersebut kepada Kaisar Rusia dan dibeli oleh Pemerintah British
dari orang-orang Uni Soviet seharga 100,000 pound pada Hari Natal,
1933.
Penemuan naskah ini adalah kisah yang menarik.
Bruce Metzger menyampaikan latar belakang menarik yang membawa
kepada penemuan tersebut:
Pada tahun 1844, sebelum ia berusia tiga
puluh tahun, Tischendorf, seorang dosen privat di Universitas
Leipzig, mengawali suatu perjalanan besar pada kawasan Timur Dekat
(Timur Tengah ditambah negara-negara Balkan) untuk mencari
naskah-naskah Alkitabiah. Ketika
sedang mengunjungi biara Santa Catharine, ia sempat melihat
beberapa lembar perkamen di keranjang sampah penuh kertas yang
dipersiapkan untuk menyalakan tungku biara itu. Pada waktu
diteliti terbukti bahwa kertas-kertas itu adalah bagian dari
sebuah kitab Perjanjian Lama versi Septuaginta, yang ditulis dalam
tulisan Yunani kuno yang disebut uncial. Ia mengumpulkan dari
keranjang sampah itu tidak kurang dari empat puluh lembar, dan
secara santai sang biarawan memberikan komentar bahwa ada dua
keranjang penuh buangan lembaran sejenis yang telah dimakan api!
Kemudian, ketika ditunjukkan kepada Tischendorf bagian-bagian lain
kodeks yang sama (yang berisi semua kitab Yesaya dengan I dan II
Makabe), ia memperingatkan sang biarawan bahwa barang-barang
tersebut terlalu berharga untuk sekadar dipakai untuk menyalakan
api tungku mereka itu. Keempat puluh tiga lembar yang diizinkan
untuk dimilikinya berisi bagian-bagian dari I Tawarikh, Yeremia,
Nehemia, dan Ester, dan ketika ia kembali ke Eropa ia menyimpannya
di perpustakaan universitas di Leipzig, tempat barang-barang itu
tersimpan sampai sekarang. Pada tahun 1846 ia menerbitkan isinya
dan menamainya kodeks Frederico-Augustinus (untuk menghormati Raja
Saxon, Frederick Augustus, raja dan orang yang membiayai
perjalanan sang penemu).
Kunjungan keduanya ke biara itu dilakukan
Tischendorf pada tahun 1853 tanpa membawa hasil naskah baru. Hal
itu disebabkan para biarawan itu merasa curiga atas gairahnya yang
terlihat demikian besar untuk memiliki naskah-naskah itu pada
kunjungan pertamanya dalam tahun 1844 itu. Menjelang
keberangkatannya untuk kunjungan ketiga kalinya pada tahun 1859 di
bawah arahan Kaisar Rusia, Alexander II, , Tischendorf memberikan
kepada penatalayan biara itu sebuah buku Septuaginta yang telah
diterbitkan Tischendorf di Leipzig. Sesudah itu, sang
penatalayan menyatakan bahwa iapun mempunyai sebuah kitab
Septuaginta, dan membawa keluar dari lemari yang ada di dalam
kamarnya yang kecil saja sebuah naskah dibungkus dengan kain merah.
Di depan mata cendekiawan yang terheran-heran itu terletak harta
yang selama itu dirindukannya. Dengan berusaha menutupi
perasaannya, Tischendorf dengan santai minta izin untuk melihatnya
lebih lanjut pada malam itu. Ia diizinkan, dan ketika sudah
kembali ke dalam kamarnya Tischendorf tidak tidur semalam suntuk
karena sukacitanya dalam mempelajari naskah tersebut sebab
seperti yang dinyatakannya dalam buku catatan hariannya (yang
ditulisnya dalam bahasa Latin berhubung ia adalah seorang
cendekiawan), quippe dormire
nefas videbatur (nampaknya
benar-benar seperti suatu pelanggaran jika seandainya harus tidur)!
Segera ia temukan bahwa dokumen itu mempunyai isi bahkan lebih
banyak daripada yang diharapkannya; karena bukan hanya sebagian
besar dari Perjanjian Lama saja yang ada di sana, melainkan juga
Perjanjian Baru ada di sana dalam keadaan terpelihara sangat baik,
bersama-sama dengan edisi dua dari karya-karya Kristen awal dari
abad kedua, Surat Kiriman Barnabas (yang sebelumnya dikenal hanya
melalui terjemahan dalam bahasa Latin yang sangat tidak memadai)
dan sebagian besar dari Shepherd
Hermas (Gembala Hermas), yang sampai sekarang yang dikenal
hanya judulnya.
Codex
Alexandrinus
(400 M.) disimpan di British Museum; Encyclopaedia
Britannica meyakini bahwa kodeks tersebut ditulis dalam bahasa
Yunani di Mesir. Kodeks ini berisi hampir seluruh kitab dalam
Alkitab.
Codex
Ephraemi
(tahun 400-an M.) disimpan di Bibliotheque Nationale, Paris. Encyclopaedia
Britannica mengatakan bahwa asal-usulnya dari abad ke-5 dan
bukti yang tersedia di dalamnya menyebabkan kodeks ini penting
dalam hubungan dengan teks beberapa bagian Perjanjian Baru.
Setiap kitab terwakili dalam naskah itu kecuali
II Tesalonika dan II Yohanes.
Codex
Bezae
(450 M. dan beberapa tahun berikutnya) disimpan di Cambridge
Library dan berisi keempat Injil dan Kisah Para Rasul yang tidak
hanya tertulis dalam bahasa Yunani namun juga dalam bahasa Latin.
Codex
Washingtonensis
(atau Freericanus) (450 M.) berisi keempat Injil.
Codex
Claromontanus (tahun
500-an M.) berisi Surat-surat Kiriman Rasul Paulus. Naskah ini
ditulis dalam dua bahasa.
|