Tes Bibliografis Kejujuran PL

 
Mengenai Perjanjian Lama, kita tidak memiliki wibawa berdasarkan naskah yang sangat dekat dengan masa penulisan naskah aslinya dalam jumlah yang berlimpah, seperti pada Perjanjian Baru. Sampai dengan penemuan terakhir Gulungan Kitab Laut Mati, naskah Ibrani tertua dan terlengkap yang kita miliki berasal dari tahun 900 M. Ini menyebabkan adanya tenggang waktu 1,300 tahun (Perjanjian Lama Ibrani ditulis lengkap sekitar abad 4 S.M.). Pada pandangan pertama akan nampak bahwa Perjanjian Lama mempunyai sifat tidak dapat dipercaya, seperti halnya naskah-naskah kuno lainnya.

Dengan adanya penemuan Gulungan Kitab Laut Mati, sejumlah naskah Perjanjian Lama telah ditemukan dan para cendekiawan menetapkan bahwa naskah-naskah itu berasal dari zaman sebelum Kristus.

Pada saat fakta-fakta itu diketahui dan diperbandingkan, ada demikian banyak alasan untuk mempercayai bahwa naskah-naskah yang kita miliki sekarang dapat dipercaya. Akan kita lihat, sebagaimana yang dikatakan oleh Sir Frederic Kenyon, bahwa “orang Kristen dapat memegang Alkitab yang lengkap dan mengatakan tanpa rasa takut atau enggan bahwa ia sedang memiliki di dalamnya Firman Allah sejati, yang diwariskan tanpa mengalami pengurangan yang berarti dari angkatan yang satu kepada angkatan-angkatan berikutnya dari abad yang satu kepada abad-abad berikutnya.”

Pertama, untuk dapat memahami keunikan Kitab Suci dalam hubungan dengan kejujurannya, seseorang perlu meneliti sikap yang sangat berhati-hati yang dimiliki para penyalin Perjanjian Lama.

AHLI TALMUD (100-500 M.)
Dalam periode ini ada demikian banyak waktu yang dipakai untuk menginventarisir hukum sipil dan hukum Ibrani yang dikanonkan.  Ahli-ahli Talmud memiliki sistem yang cukup rumit untuk menyalin gulungan-gulungan kitab yang ada di sunagoge.

Samuel Davidson menggambarkan beberapa di antara tata tertib ahli-ahli Talmud dalam hubungan dengan Kitab Suci. Peraturan-peraturan yang pelik ini (akan saya pergunakan urutan nomor yang dipakai oleh Geisler dan Nix) sebagai berikut: [1] Gulungan kitab di sunagoge harus ditulis di atas lembaran-lembaran kulit binatang yang dianggap suci, [2] dipersiapkan untuk dipakai secara khusus di sunagoge oleh seorang Yahudi. [3] Lembaran-lembaran ini harus dirangkai menjadi satu dengan menggunakan urat binatang yang dianggap suci. [4] Setiap kulit harus berisi sejumlah kolom tertentu, dan dibuat seragam untuk seluruh kodeks. [5] Panjang setiap kolom tidak boleh kurang dari 48 atau melebihi 60 baris; dan lebarnya harus berisi tiga puluh huruf. [6] Seluruh salinan harus pertama-tama dibuat bergaris; dan apabila tiga kata ditulis tanpa garis, maka kata-kata tersebut dianggap tidak berguna. [7] Tinta yang dipakai harus berwarna hutam, tidak boleh berwarna merah, hijau, ataupun yang lain, dan harus dipersiapkan berdasarkan resep yang tetap. [8] Salinan yang benar adalah lembaran yang telah ditulis oleh penyalin tanpa penyimpangan sedikitpun. [9] Tidak boleh ada kata atau huruf, bahkan sebuah yod (huruf terkecil Ibrani, red.), yang ditulis berdasarkan ingatan yakni, bahwa sang penyalin menulis sebelum melihat kodeks yang terbentang di depannya . . . [10] Di antara setiap huruf mati harus ada ruangan selebar rambut atau benang; [11] di antara setiap parashah (bagian Taurat yang telah ditetapkan untuk dibaca pada ibadah di sunagoge), atau bagian baru, harus diberi jarak yang sama dengan deretan sembilan huruf mati; [12] di antara setiap kitab, tiga baris. [13] Kitab kelima karya Musa harus diakhiri dengan tepat, yakni dengan sebuah baris lengkap; namun selain kitab itu tidak demikian.[14] Selain itu, sang penyalin harus duduk dengan berpakaian Yahudi secara lengkap, [15] membersih-kan seluruh tubuhnya (mandi), [16] tidak mulai menulis nama Allah dengan pena yang baru saja dicelupkan dalam tinta, [17] dan seandainya seorang raja menegurnya ketika ia sedang menuliskan nama tersebut ia harus mengabaikan sang raja.”

Davidson menambahkan bahwa “gulungan-gulungan yang dihasilkan tanpa memperhatikan tata tertib ini diputuskan untuk ditanam di dalam tanah atau dibakar; atau dibuang ke sekolah-sekolah untuk dijadikan buku bacaan.”

Mengapa kita tidak memiliki naskah kuno lebih banyak lagi? Tidak adanya naskah-naskah kuno, yang ditulis dengan memperhatikan peraturan-peraturan dan ketepatan-ketepatanh yang telah ditetapkan bagi sang penyalin itu, mengokohkan kejujuran lembaran-lembaran naskah yang kita miliki saat ini.

Gleason Archer, dalam membandingkan variasi-variasi naskah teks Ibrani dengan literatur sebelum zaman Kristen seperti Kitab Mesir tentang Orang Mati, menyatakan bahwa hal yang sungguh-sungguh menakjubkan adalah karena teks Ibrani tidak memiliki gejala kelainan dan perubahan seperti yang dimiliki naskah lain sezamannya. Ia menulis:
“Walaupun dua naskah Yesaya yang ditemukan di Gua Qumran 1 di dekat Laut Mati pada tahun 1947 itu berumur seribu tahun lebih tua daripada naskah tertua yang dikenal sebelumnya (980 M.), naskah-naskah itu membuktikan bahwa ada persamaan kata per kata dengan Alkitab Ibrani baku yang kita miliki selama ini lebih dari 95 persen. Perbedaan yang 5 persen itu terutama berisi kekeliruan yang terlihat jelas dalam mencoretkan pena dan perbedaan ejaan. Bahkan serpihan-serpihan kitab Ulangan dan kitab Samuel dari Laut Mati yang menunjukkan bahwa naskah-naskah itu berasal dari kelompok naskah yang berbeda dari naskah yang dijadikan dasar teks Ibrani yang sudah kita terima itu, tidak memberikan tanda-tanda tentang adanya perbedaan dalam ajaran atau pengajaran. Kekeliruan pencoretan pena dan perbedaan ejaan itu tidak mempengaruhi sedikitpun berita yang diwahyukan itu.”

Ahli-ahli Talmud itu demikian yakin bahwa ketika mereka telah selesai menyalin sebuah naskah mereka memiliki salinan yang tepat, sehingga mereka memberikan wewenang yang sama kepada salinan yang baru itu.

Frederic Kenyon dalam Our Bible and Ancient Manuscripts(Alkitab Kita dan Naskah-naskah Kuno) membentangkan lebih luas hal di atas serta penghancuran naskah yang lebih tua: “Sikap berhati-hati yang sama ekstrimnya dengan yang diberikan kepada penyalinan naskah juga mendasari penghancuran naskah-naskah yang lebih tua. Ketika sebuah naskah telah disalin dengan mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh Talmud, dan telah teruji kebenarannya, maka naskah itu diterima sebagai naskah yang benar dan dipandang memiliki nilai yang sama dengan naskah lain yang manapun. Jika semuanya sama-sama benar, maka umur tidak memberikan manfaat apa-apa kepada suatu naskah; sebaliknya, umur sangat merugikan, karena sebuah naskah memiliki kemungkinan untuk cacat atau mengalami kerusakan dalam pergeseran waktu. Naskah yang rusak atau tidak sempurna segera dinyatakan tidak layak pakai.

Setiap sunagoge dilengkapi dengan ‘Gheniza,’ lemari kayu, tempat menyimpan naskah-naskah cacat yang sudah dikesampingkan; dan dari tempat penyimpanan itulah beberapa di antara naskah yang masih bertahan sampai saat ini telah ditemukan orang pada zaman moderen. Jadi, jauh dari pemikiran mereka untuk memandang bahwa naskah-naskah Kitab Suci yang lebih tua itu lebih berharga, kebiasaan Yahudi adalah justru lebih menyukai yang lebih baru, sebagai naskah yang paling sempurna dan bebas dari kerusakan. Naskah-naskah yang lebih tua, begitu disimpan di ‘Gheniza,’ akan hancur secara wajar, apakah karena tidak dihiraukan lagi atau karena dengan sengaja dibakar ketika isi ‘Gheniza’ itu sudah terlalu penuh.

“Oleh karena itu, tidak adanya naskah-naskah Alkitab Ibrani dalam kondisi sangat tua tidak perlu mengherankan atau menggelisahkan kita. Jika, kepada alasan-alasan yang telah disebutkan itu, kita tambahkan penganiayaan yang bertubi-tubi (yang mencakup upaya penghancuran atas harta benda) dengan orang-orang Yahudi sebagai korbannya, hilangnya naskah-naskah kuno telah cukup dijelaskan, dan naskah-naskah yang masih ada diterima sebagai naskah yang memelihara apa yang mereka akui sendiri terpelihara – yaitu, teks Massoretis.”

“Rasa hormat terhadap Kitab Suci dan perhatian terhadap kemurnian teks kudus itu untuk pertama kalinya berasal dari masa sesudah kejatuhan Yerusalem.”

Seseorang dapat menelusurinya sampai pada Ezra 7:6, 10 dalam ayat-ayat yang mengatakan bahwa Ezra adalah “jurutulis yang handal.” Ia adalah tenaga profesional, terampil dalam bidang  Kitab Suci.

Bukti Naskah PB ] Perbandingan PB ] Kronologi Penting PB ] Dukungan Pelbagai Versi ] Dukungan Bapa Gereja ] Dukungan Bagian Alkitab ] [ Sikap Ahli Talmud ] Periode Massoretis ] Kesaksian Laut Mati ] Keaslian Teks Ibrani ] Dukungan Teks-teks Lain ] Manfaat Keraguan ] Kompetensi Sumber Utama ] Tes Eksternal ] Bukti Arkeologis ] Contoh Bukti Arkeologis ] Kesimpulan ]

© 1999-2000 Campus Crusade for Christ International

Last Updated: 11 July, 2006