| Massoret (dari kata Ibrani massora, Tradisi)
menerima tugas berat untuk menyunting teks dan menetapkan
pembakuannya. Kantor pusatnya terletak di Tiberias. Teks yang
merupakan hasil akhir Massoret disebut teks Massoretis. Teks
yang mereka hasilkan ini telah ditambah dengan penunjuk vokal (bunyi
huruf hidup) untuk memastikan ucapan yang tepat. Teks Massoretis
ini adalah teks Ibrani baku masa kini.
Para Massoret memiliki kedisplinan yang tinggi dan mereka memperlakukan teks naskah kuno itu dengan rasa
hormat tertinggi yang dapat dibayangkan, dan menerapkan sistem
yang demikian rumit untuk memeliharanya dari kesalahan dalam
penyalinannya. Misalnya, mereka menghitung berapa kali tiap huruf
dalam abjad mereka itu muncul dalam setiap kitab; mereka
menunjukkan huruf menjadi titik pusat Pentateukh dan huruf yang
menjadi titik pusat seluruh Alkitab Ibrani, dan bahkan membuat
penghitungan lebih rinci lagi daripada contoh ini. Segala
sesuatu yang dapat dihitung nampaknya mereka hitung, kata
Wheeler Robinson, dan mereka menciptakan cara untuk meningkatkan
daya ingat sehingga dengan demikian pelbagai jumlah dengan mudah
mereka hafalkan.
Sir Frederic Kenyon mengatakan:
Selain mencatat pelbagai perbedaan naskah, tradisi, atau hasil
dugaan, para Massoret memikul tanggung jawab untuk melakukan
sejumlah penghitungan yang tidak masuk ke dalam suasana yang
biasanya ada pada penelitian tekstual. Mereka menghitung
jumlah ayat, kata, dan huruf pada setiap kitab. Mereka
menghitung kata yang menjadi titik pusat dan huruf yang menjadi
titik pusat setiap kitab. Mereka menghitung ayat-ayat yang memuat
semua huruf dalam abjad mereka itu, atau sejumlah huruf saja; dan
sebagainya. Hal-hal remeh seperti ini, menurut anggapan kita
yang mungkin memang demikian, masih memiliki dampak untuk
menjamin adanya perhatian yang sangat kecil sekalipun terhadap
proses penyalinan teks secara tepat; dan hal-hal kecil itu hanya
merupakan pengungkapan yang berlebihan dari penghargaan terhadap
Kitab Suci, yang sesungguhnya pengungkapan penghargaan itu tidak
seharusnya menerima sesuatu selain pujian. Para Massoret
sungguh-sungguh berhasrat untuk menjaga agar tidak ada satu titik
atau garis kecilpun, tidak ada satu huruf terkecilpun atau bagian
kecil dari sebuah hurufpun dari hukum Taurat berlalu atau hilang.
Flavius Josephus, seorang sejarawan Yahudi,
menulis: Kami telah memberikan bukti praktis tentang rasa
hormat kami kepada Kitab Suci kami sendiri. Karena, kendatipun
zaman yang panjang itu telah berlalu, tidak ada seorangpun yang
mencoba baik untuk menambah, maupun mengurangi, atau mengubah
sebuah sukukata; dan ini merupakan naluri yang dimiliki setiap
orang Yahudi, sejak hari kelahirannya, untuk memandangnya sebagai
perintah Allah, untuk berpegang padanya, dan, jika perlu, dengan
senang hati mati untuknya. Berulang kali, sebelum ini ada hal yang
dapat disaksikan tentang orang-orang tawanan yang lebih rela
menderita penganiayaan dan menanggung kematian dalam pelbagai
bentuk di gedung-gedung teater, daripada mengatakan sesuatu yang
bertentangan dengan hukum dan dokumen-dokumen yang berhubungan
dengannya.
Josephus melanjutkan uraiannya dengan mengadakan
perbandingan antara rasa hormat orang-orang Ibrani terhadap Kitab
Suci dengan penghargaan orang-orang Yunani terhadap sastera mereka:
Apakah yang akan ditanggung oleh orang-orang Yunani untuk
alasan yang sama? Bahkan untuk menyelamatkan seluruh koleksi karya
tulis bangsa mereka dari kehancuran, mereka tidak akan bersedia
menghadapi penderitaan pribadi sedikitpun. Karena bagi orang-orang
Yunani, semua karya sastera itu hanya kumpulan ceritera yang
digubah berdasarkan khayalan pengarang-pengarangnya; dan dalam
penilaian seperti ini bahkan oleh sejarawan-sejarawan terdahulu
karya-karya dengan ciri seperti itu sungguh-sungguh terbukti
sebagai kenyataan, pada saat mereka melihat beberapa di antara
penulis sezamannya yang
berusaha untuk melukiskan kejadian-kejadian yang sama sekali tidak
berhubungan dengan mereka, mereka tidak mau mempersulit diri
dengan mencari informasi dari orang-orang yang mengetahui fakta
yang sebenarnya.
|
| Pengamatan Robert
Dick Wilson yang demikian cemerlang membawa kebenaran dan
kejujuran Kitab Suci kembali ke masa Perjanjian Lama: Dalam 144
kasus penerjemahan dari bahasa Mesir, Asyur, Babilonia dan Moab ke
dalam bahasa Ibrani dan dalam 40 kasus proses sebaliknya, atau 184
kasus secara keseluruhannya, bukti yang ada menunjukkan bahwa
selama 2300 sampai 3900 tahun teks tentang nama-nama dalam Alkitab
Ibrani telah disalin dengan ketepatan yang paling tinggi. Bahwa
para penyalin asli itu telah menuliskannya dengan kesesuaian pada
prinsip-prinsip filosofis yang benar seperti itu telah menjadi
bukti tentang sikap mereka yang demikian berhati-hati dan
pengetahuan mereka yang demikian tinggi; selanjutnya, bahwa teks
Ibrani telah disalin oleh pelbagai penyalin melalui abad demi abad
menjadi sesuatu yang tidak tersaingi dalam sejarah pustaka.
Wilson menambahkan: Ada sekitar empat puluh
raja yang hidup dari tahun 2000 S.M. sampai dengan tahun 400 S.M.
Masing-masing tercantum dalam urutan kronologis . . . dengan
referensi kepada raja-raja negara yang sama dan dengan
memperhatikan raja-raja dari negeri-negeri lain . . . tidak pernah
ada bukti yang lebih kuat yang dapat dibayangkan tentang ketepatan
yang sangat tinggi yang dimiliki catatan-catatan Perjanjian Lama
daripada kumpulan raja-raja ini. Secara matematis, hanya ada
satu kemungkinan di antara 750,000,000,000,000,000,000,000 bahwa
ketepatan ini hanya semata-mata karena suatu keadaan.
Karena adanya bukti itu maka Wilson menyimpulkan:
Bukti bahwa naskah-naskah asli itu telah
diwariskan dengan ketepatan yang sangat tinggi selama lebih dari
2000 tahun tidak dapat disangkali. Bahwa naskah-naskah yang ada
pada 2000 tahun lalu telah diturunkan dalam keadaan yang sama
dengan naskah-naskah aslinya tidak hanya sebagai suatu kemungkinan,
tetapi, seperti yang telah kami tunjukkan, dipandang sebagai
sesuatu yang pasti dapat terjadi berdasarkan analogi dokumen
Babilonia yang sampai saat ini masih ada baik yang asli maupun
salinannya, yang kedua-duanya terpisah ribuan tahun, dan dari
antara puluhan papirus yang dibandingkan dengan edisi moderen
karya-karya klasik itu menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lebih
dari 2000 tahun hanya ada perubahan-perubahan sangat kecil pada
teks tersebut dan terutama dengan ketepatan yang teruji secara
ilmiah dan dapat dibuktikan yang olehnya ejaan yang tepat nama
raja-raja dan pelbagai istilah asing yang terdapat di dalam teks
Ibrani telah disalurkan kepada kita.
F. F. Bruce menyatakan bahwa teks Alkitab
Ibrani yang terdiri dari huruf-huruf mati yang disunting oleh para
Massoret telah diwariskan ke dalam zaman mereka dengan ketepatan
yang menyolok mata dengan tenggang waktu hampir seribu tahun.
William Green menyimpulkan bahwa mungkin aman
untuk dikatakan bahwa tidak ada karya kuno lain yang telah
diwariskan dengan cara demikian tepat.
Mengenai ketepatan dalam penyaluran teks Ibrani,
Atkinson, Petugas Perpustakaan di Universitas Cambridge,
mengatakan bahwa penyaluran naskah itu hampir-hampir berupa
mujizat.
Rabbi
Aquiba,
abad kedua Masehi, dengan hasrat untuk menghasilkan teks yang
benar-benar tepat, dipercayai telah berkata penyaluran teks (Massoret)
yang tepat berfungsi sebagai pagar bagi Taurat.
|