Tes Bibliografis Kejujuran PL

     PERIODE MASSORETIS (500-900 M.)
Massoret (dari kata Ibrani massora, “Tradisi”) menerima tugas berat untuk menyunting teks dan menetapkan pembakuannya. Kantor pusatnya terletak di Tiberias. Teks yang merupakan hasil akhir Massoret disebut teks “Massoretis.” Teks yang mereka hasilkan ini telah ditambah dengan penunjuk vokal (bunyi huruf hidup) untuk memastikan ucapan yang tepat. Teks Massoretis ini adalah teks Ibrani baku masa kini.

Para Massoret memiliki kedisplinan yang tinggi  dan mereka memperlakukan teks naskah kuno itu “dengan rasa hormat tertinggi yang dapat dibayangkan, dan menerapkan sistem yang demikian rumit untuk memeliharanya dari kesalahan dalam penyalinannya. Misalnya, mereka menghitung berapa kali tiap huruf dalam abjad mereka itu muncul dalam setiap kitab; mereka menunjukkan huruf menjadi titik pusat Pentateukh dan huruf yang menjadi titik pusat seluruh Alkitab Ibrani, dan bahkan membuat penghitungan lebih rinci lagi daripada contoh ini. ‘Segala sesuatu yang dapat dihitung nampaknya mereka hitung,’ kata Wheeler Robinson, dan mereka menciptakan cara untuk meningkatkan daya ingat sehingga dengan demikian pelbagai jumlah dengan mudah mereka hafalkan.”

Sir Frederic Kenyon mengatakan: “Selain mencatat pelbagai perbedaan naskah, tradisi, atau hasil dugaan, para Massoret memikul tanggung jawab untuk melakukan sejumlah penghitungan yang tidak masuk ke dalam suasana yang biasanya ada pada penelitian tekstual. Mereka menghitung  jumlah ayat, kata, dan huruf pada setiap kitab. Mereka menghitung kata yang menjadi titik pusat dan huruf yang menjadi titik pusat setiap kitab. Mereka menghitung ayat-ayat yang memuat semua huruf dalam abjad mereka itu, atau sejumlah huruf saja; dan sebagainya. Hal-hal remeh seperti ini, menurut anggapan kita  yang mungkin memang demikian, masih memiliki dampak untuk menjamin adanya perhatian yang sangat kecil sekalipun terhadap proses penyalinan teks secara tepat; dan hal-hal kecil itu hanya merupakan pengungkapan yang berlebihan dari penghargaan terhadap Kitab Suci, yang sesungguhnya pengungkapan penghargaan itu tidak seharusnya menerima sesuatu selain pujian. Para Massoret sungguh-sungguh berhasrat untuk menjaga agar tidak ada satu titik atau garis kecilpun, tidak ada satu huruf terkecilpun atau bagian kecil dari sebuah hurufpun dari hukum Taurat berlalu atau hilang.”

Flavius Josephus, seorang sejarawan Yahudi, menulis: “Kami telah memberikan bukti praktis tentang rasa hormat kami kepada Kitab Suci kami sendiri. Karena, kendatipun zaman yang panjang itu telah berlalu, tidak ada seorangpun yang mencoba baik untuk menambah, maupun mengurangi, atau mengubah sebuah sukukata; dan ini merupakan naluri yang dimiliki setiap orang Yahudi, sejak hari kelahirannya, untuk memandangnya sebagai perintah Allah, untuk berpegang padanya, dan, jika perlu, dengan senang hati mati untuknya. Berulang kali, sebelum ini ada hal yang dapat disaksikan tentang orang-orang tawanan yang lebih rela menderita penganiayaan dan menanggung kematian dalam pelbagai bentuk di gedung-gedung teater, daripada mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hukum dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengannya.”

Josephus melanjutkan uraiannya dengan mengadakan perbandingan antara rasa hormat orang-orang Ibrani terhadap Kitab Suci dengan penghargaan orang-orang Yunani terhadap sastera mereka: “Apakah yang akan ditanggung oleh orang-orang Yunani untuk alasan yang sama? Bahkan untuk menyelamatkan seluruh koleksi karya tulis bangsa mereka dari kehancuran, mereka tidak akan bersedia menghadapi penderitaan pribadi sedikitpun. Karena bagi orang-orang Yunani, semua karya sastera itu hanya kumpulan ceritera yang digubah berdasarkan khayalan pengarang-pengarangnya; dan dalam penilaian seperti ini bahkan oleh sejarawan-sejarawan terdahulu karya-karya dengan ciri seperti itu sungguh-sungguh terbukti sebagai kenyataan, pada saat mereka melihat beberapa di antara penulis sezamannya  yang berusaha untuk melukiskan kejadian-kejadian yang sama sekali tidak berhubungan dengan mereka, mereka tidak mau mempersulit diri dengan mencari informasi dari orang-orang yang mengetahui fakta yang sebenarnya.”

 

KUTIPAN DAN PENGAMALAN 
KEJUJURAN PERJANJIAN LAMA
Pengamatan Robert Dick Wilson yang demikian cemerlang membawa kebenaran dan kejujuran Kitab Suci kembali ke masa Perjanjian Lama: Dalam 144 kasus penerjemahan dari bahasa Mesir, Asyur, Babilonia dan Moab ke dalam bahasa Ibrani dan dalam 40 kasus proses sebaliknya, atau 184 kasus secara keseluruhannya, bukti yang ada menunjukkan bahwa selama 2300 sampai 3900 tahun teks tentang nama-nama dalam Alkitab Ibrani telah disalin dengan ketepatan yang paling tinggi. Bahwa para penyalin asli itu telah menuliskannya dengan kesesuaian pada prinsip-prinsip filosofis yang benar seperti itu telah menjadi bukti tentang sikap mereka yang demikian berhati-hati dan pengetahuan mereka yang demikian tinggi; selanjutnya, bahwa teks Ibrani telah disalin oleh pelbagai penyalin melalui abad demi abad menjadi sesuatu yang tidak tersaingi dalam sejarah pustaka.”

Wilson menambahkan: “Ada sekitar empat puluh raja yang hidup dari tahun 2000 S.M. sampai dengan tahun 400 S.M. Masing-masing tercantum dalam urutan kronologis ‘. . . dengan referensi kepada raja-raja negara yang sama dan dengan memperhatikan raja-raja dari negeri-negeri lain . . . tidak pernah ada bukti yang lebih kuat yang dapat dibayangkan tentang ketepatan yang sangat tinggi yang dimiliki catatan-catatan Perjanjian Lama daripada kumpulan raja-raja ini.’ Secara matematis, hanya ada satu kemungkinan di antara 750,000,000,000,000,000,000,000 bahwa ketepatan ini hanya semata-mata karena suatu keadaan.”

Karena adanya bukti itu maka Wilson menyimpulkan:
“Bukti bahwa naskah-naskah asli itu telah diwariskan dengan ketepatan yang sangat tinggi selama lebih dari 2000 tahun tidak dapat disangkali. Bahwa naskah-naskah yang ada pada 2000 tahun lalu telah diturunkan dalam keadaan yang sama dengan naskah-naskah aslinya tidak hanya sebagai suatu kemungkinan, tetapi, seperti yang telah kami tunjukkan, dipandang sebagai sesuatu yang pasti dapat terjadi berdasarkan analogi dokumen Babilonia yang sampai saat ini masih ada baik yang asli maupun salinannya, yang kedua-duanya terpisah ribuan tahun, dan dari antara puluhan papirus yang dibandingkan dengan edisi moderen karya-karya klasik itu menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lebih dari 2000 tahun hanya ada perubahan-perubahan sangat kecil pada teks tersebut dan terutama dengan ketepatan yang teruji secara ilmiah dan dapat dibuktikan yang olehnya ejaan yang tepat nama raja-raja dan pelbagai istilah asing yang terdapat di dalam teks Ibrani telah disalurkan kepada kita.”

F. F. Bruce menyatakan bahwa “teks Alkitab Ibrani yang terdiri dari huruf-huruf mati yang disunting oleh para Massoret telah diwariskan ke dalam zaman mereka dengan ketepatan yang menyolok mata dengan tenggang waktu hampir seribu tahun.”

William Green menyimpulkan bahwa “mungkin aman untuk dikatakan bahwa tidak ada karya kuno lain yang telah diwariskan dengan cara demikian tepat.”

Mengenai ketepatan dalam penyaluran teks Ibrani, Atkinson, Petugas Perpustakaan di Universitas Cambridge, mengatakan bahwa penyaluran naskah itu “hampir-hampir berupa mujizat.”

Rabbi Aquiba, abad kedua Masehi, dengan hasrat untuk menghasilkan teks yang benar-benar tepat, dipercayai telah berkata “penyaluran teks (Massoret) yang tepat berfungsi sebagai pagar bagi Taurat.”

Bukti Naskah PB ] Perbandingan PB ] Kronologi Penting PB ] Dukungan Pelbagai Versi ] Dukungan Bapa Gereja ] Dukungan Bagian Alkitab ] Sikap Ahli Talmud ] [ Periode Massoretis ] Kesaksian Laut Mati ] Keaslian Teks Ibrani ] Dukungan Teks-teks Lain ] Manfaat Keraguan ] Kompetensi Sumber Utama ] Tes Eksternal ] Bukti Arkeologis ] Contoh Bukti Arkeologis ] Kesimpulan ]

© 1999-2000 Campus Crusade for Christ International

Last Updated: 11 July, 2006