Kanon

 
Kesaksian Perjanjian Baru Tentang Perjanjian Lama Sebagai Kitab Suci

Matius 21:42; 22:29; 26:54, 56
Lukas 24
Yohanes 5:39; 10:35
Kisah Para Rasul 17:2, 11; 18:28
Roma 1:2; 4:3; 9:17; 10:11; 11:2; 15:4; 16:26
I Korintus 15:3, 4
Galatia 3:8; 3:22; 4:30
I Timotius 5:18
II Timotius 3:16
II Petrus 1:20, 21; 3:16
“. . . seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci . . .” (Yohanes 7:38), tanpa adanya identitas yang lebih khusus harus ada pemahaman yang lebih umum tentang hubungan antara Kitab Suci dengan pelbagai kitab lainnya.

Konsili Jamnia

Banyak mahasiswa yang memberikan pendapat: “Tentu saja, saya tahu tentang kanon. Para pemimpin berhimpun dalam suatu konsili dan memutuskan kitab mana saja yang sangat bermanfaat bagi mereka dan sesudah itu memaksakan pilihan mereka itu untuk diterima oleh pengikut-pengikut mereka.” Ini cukup memisahkan seseorang dari kebenaran sejauh yang dapat diusahakannya, (Namun bagi sejumlah orang, jarak tidak menjadi masalah pada zaman angkasa luar ini).

Tepat sekali komentar yang diberikan oleh F. F. Bruce dan H. H. Rowley dalam hubungan dengan masalah ini:
F. F. Bruce: “Alasan utama untuk menanyakan apakah bagian “Sastera” itu sudah tertulis secara lengkap pada zaman Tuhan kita adalah karena kita memiliki catatan tentang diskusi-diskusi yang terjadi di antara para Rabi sesudah Yerusalem jatuh pada tahun 70 M. tentang beberapa di antara kitab yang menjadi bagian kelompok ini. Ketika tidak lama lagi terjadi penghancuran atas kota dan Bait Allah itu, seorang Rabi besar yang termasuk dalam kelompok Hillel dalam kalangan Farisi – bernama Yochanan ben Zakkai – mendapat izin dari penguasa Romawi untuk membentuk kembali Sanhedrin yang secara murni didasarkan pada alasan rohaniah di Jabneh atau Jamnia, yang terletak di antara Joppa dan Azotus (Ashdod). Beberapa di antara diskusi yang berlangsung di Jamnia itu diwariskan secara lisan dan pada akhirnya dicatat dalam tulisan para Rabi. Di tengah-tengah debat mereka itu, mereka mempertimbangkan apakah perlu adanya pengakuan atas pengkanonan kitab Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung dan Ester. Ada pelbagai keberatan yang dilontarkan terhadap kitab-kitab ini dengan dasar yang bermacam-macam; Ester, misalnya, tidak menyebutkan nama Allah, dan Pengkhotbah tidak terlalu mudah untuk disejajarkan dengan ajaran dasar kontemporer. Namun keputusan akhir debat di Jamnia itu berupa pengakuan yang kokoh bahwa semua kitab ini adalah Kitab Suci.”

H. H. Rowley menulis: “Memang sunguh-sungguh meragukan, sejauh mana kebenaran yang dapat kita capai jika kita berbicara tentang Konsili Jamnia. Kita tahu tentang adanya diskusi yang berlangsung di sana di antara para Rabi, namun kita tidak mengetahui keputusan-keputusan formal, atau yang mengikat, yang telah mereka ambil, dan ada kemungkinan bahwa diskusi-diskusi tersebut bersifat tidak formal, namun yang jelas diskusi-diskusi itu telah bermanfaat untuk membantu mengkristalisasi dan memperkokoh kedudukan tradisi Yahudi.”

Literatur Apokrifa Perjanjian Lama

Pendahuluan
Istilah ini berarti “terselubung atau tersembunyi” dari kata Yunani apokruphos.
Pada abad keempat Jerome adalah orang pertama yang menyebut kelompok literatur itu “Apokrifa.” Apokrifa terdiri dari kitab-kitab yang ditambahkan pada Perjanjian Lama oleh gereja Katolik, sementara kaum Protestan berpendapat bahwa kitab-kitab itu tidak kanonik.

Mengapa Tidak Kanonik?
Unger’s Bible Dictionary memberikan alasan mengapa kitab-kitab tersebut tidak dimasukkan dalam Alkitab:
 “Terlalu banyak ketidaktepatan historis maupun geografis serta anakronisme (tumpang tindih waktu).

 “Mengajarkan ajaran yang salah dan memelihara praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Kitab Suci yang diwahyukan itu.

 “Menggunakan tipe sastera dan menunjukkan kebenaran semu suatu pokok serta mengaturnya demikian rupa supaya nampak sejalan dengan Kitab Suci yang diwahyukan itu.

“Tidak mempunyai unsur-unsur istimewa yang memberikan tanda ilahi kepada Kitab Suci yang sejati, seperti kuasa kenabian dan rasa puitis serta religi.

Ringkasan Masing-masing Kitab
Ralph Earle, dalam buku penuntun studinya yang sangat baik, berjudul How We Got Our Bible (Bagaimana Kita Memperoleh Alkitab Kita), memberikan rincian singkat tentang tiap kitab. Karena kualitasnya, maka saya memilih untuk mencetak kerangka garis besarnya daripada membuat yang lain.

I Esdras (sekitar 150 S. M.) menceriterakan tentang pemulangan orang-orang Yahudi ke Palestina dari tempat pembuangan mereka di Babilonia. Kitab ini banyak mengambil bahan dari Tawarikh, Ezra, dan Nehemia, namun sang penulis telah memasukkan banyak bahan legendaris.

“Yang paling menarik adalah Kisah Tiga Penjaga. Mereka memperdebatkan benda apakah yang terkuat di dunia ini. Salah seorang berkata, ‘Anggur’; yang lain, ‘Raja’; yang ketiga, ‘Wanita dan Kebenaran.’ Mereka menaruh ketiga macam jawaban ini di bawah bantal raja. Ketika sang raja bangun, ia minta agar ketiga orang itu masing-masing mempertahankan jawaban mereka. Keputusan bulat diambil: ‘Kebenaran adalah yang terkuat.” Karena Zerubabel telah memberikan jawaban ini, maka sebagai hadiahnya ia diizinkan untuk memugar Bait Allah di Yerusalem.

II Esdras (100 M.) adalah karya apokaluptik, yang berisi tujuh penglihatan. Martin Luther demikian kebingungan untuk memahami penglihatan itu, sehingga dikatakan bahwa ia telah melemparkan kitab itu ke Sungai Elbe.

Tobit (awal abad ke-2 S.M.) adalah suatu novel pendek. Sangat khas bergaya Farisi, memberikan penekanan kepada Hukum, makanan yang suci, upacara penyucian, pemberian sedekah, puasa dan doa. Pernyataannya terdengar jelas tidak alkitabiah, karena dikatakan bahwa pemberian sedekah menebus dosa.

Judith (sekitar pertengahan abad ke-2 S.M.) juga adalah khayalan belaka dan bergaya Farisi. Srikandi dalam novel ini bernama Judith, seorang janda cantik berdarah Yahudi. Ketika kota tempat tinggalnya dikepung musuh, ia mengambil seorang pembantunya, yang membawa serta makanan Yahudi yang suci, lalu pergi ke kemah jenderal penyerang itu. Ia terpikat oleh kecantikannya dan memberikan kepadanya salah satu tempat di dalam tendanya. Untunglah, ia minum-minum sangat bebas sampai akhirnya mabuk. Judith mengambil pedang sang jenderal untuk memenggal kepalanya. Lalu bersama pembantunya Judith meninggalkan perkemahan itu, sambil membawa tas makanan yang kini telah berisi kepala jenderal itu. Tas itu digantungkan pada tembok kota yang berdekatan dengan perkemahan itu dan pasukan Asyur yang tidak mempunyai pemimpin itu terkalahkan.

Tambahan kepada Ester (sekitar 100 M.). Ester berdiri sendiri di antara kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama karena kitab Ester tidak menyebut nama Allah. Dikisahkan bahwa Ester dan Mordekhai berpuasa, namun tidak secara khusus dikatakan bahwa mereka berdoa. Untuk mengisi kekurangan ini, maka Tambahan ini memuat doa-doa yang demikian panjang yang dikatakan sebagai doa kedua orang tersebut, yang digabungkan dengan dua buah surat yang diduga telah ditulis oleh Ahasyweros.

Hikmat Salomo (sekitar 40 M.) ditulis untuk memelihara agar orang-orang Yahudi tidak jatuh ke dalam sikap skeptis, materialistis, dan menyembah berhala. Seperti halnya dalam Amsal, Hikmat dipersonifikasikan. Ada banyak perasaan yang demikian mulia yang diungkapkan dalam buku ini.

Ecclestiasticus, atau Hikmat Sirakh (sekitar 180 S.M.), menunjukkan tingkat hikmat keagamaan yang tinggi, agak menyerupai Kitab Amsal yang dikanonkan itu. Kitab ini juga memuat banyak nasihat praktis. Misalnya, pada pokok tentang percakapan selepas makan malam dikatakan (32:8):
“ ‘Berbicaralah secara ringkas; berbicaralah dengan kata-kata berbobot. . . .’
“ ‘Bertindaklah seperti orang yang mengetahui lebih banyak daripada apa yang dikatakannya.’
Dan lagi (33:4):
“ ‘Persiapkan apa yang harus kaukatakan, maka kamu akan didengarkan.’

“Dalam khotbah-khotbahnya, John Wesley beberapa kali mengutip dari Kitab Ecclesiasticus. Kitab ini masih dipakai secara luas di kalangan gereja Anglikan.

Barukh (sekitar 100 M.) memperkenalkan diri sebagai tulisan Barukh sendiri, jurutulis Yeremia, pada tahun 582 S.M. Sesungguhnya, kitab ini mungkin berusaha untuk menjelaskan penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M. Kitab ini mendorong orang-orang Yahudi untuk tidak melakukan pemberontakan lagi, melainkan sebaliknya tunduk kepada kaisar. Kendatipun demikian, pemberontakan Bar-Cochba menentang pemerintahan Romawi terjadi tidak lama berselang, pada tahun 132-35 M. Pasal keenam Barukh berisi apa yang disebut sebagai ‘Surat Yeremia,’ dengan peringatan keras terhadap penyembahan berhala – mungkin ditujukan kepada orang-orang Yahudi di Iskandariyah, Mesir.

“Kitab Daniel kami berisi 12 pasal. Pada abad pertama sebelum Kristus ditambahkanlah pasal ketigabelas, berisi kisah tentang Susanna. Ia adalah isteri seorang tokoh Yahudi di Babilonia yang demikian cantik, rumah mereka sering dikunjungi tua-tua dan hakim-hakim Yahudi. Dua orang di antara mereka terpikat olehnya dan berusaha untuk menggodanya. Ketika ia menjerit, kedua tua-tua itu berkata bahwa mereka menjumpai Susanna ada di pelukan seorang pemuda. Ia dibawa ke pengadilan. Karena ada dua orang yang memberikan kesaksian yang sama, maka ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.

“Namun seorang muda bernama Daniel menginterupsi alur persidangan dan mulai mengadakan pengecekan silang pada kedua saksi. Ia mengajukan pertanyaan kepada masing-masing secara terpisah tentang di bawah pohon mana di dalam taman itu ketika mereka jumpai Susanna bersama seorang kekasihnya. Ketika mereka memberikan jawaban yang berbeda, mereka dijatuhi hukuman mati dan Susanna selamat.

Bel dan Sang Naga ditambahkan pada masa yang bersamaan dan disebut sebagai pasal ke-14 kitab Daniel. Tujuan utamanya adalah menunjukkan bahwa penyembahan berhala itu salah. Pasal ini berisi dua buah ceritera.

“Pada ceritera pertama, Raja Koresy bertanya kepada Daniel mengapa ia tidak mau menyembah Bel, karena berhala itu menunjukkan kebesarannya dengan cara menghabiskan banyak domba, bersama tepung dan minyak dalam jumlah besar juga. Lalu Daniel menghamburkan abu pada lantai Kuil tempat makanan itu ditaruh pada malam hari itu. Pada pagi harinya sang raja membawa Daniel masuk untuk menunjukkan kepadanya bahwa Bel telah menghabiskan makanan yang dihidangkan kepadanya pada malam yang baru berlalu itu. Namun Daniel menunjukkan kepada raja pada abu yang terserak di lantai itu bekas kaki imam-imam dan keluarga mereka yang memasuki Kuil itu melalui jalan rahasia di bawah meja. Imam-imam itu dibunuh dan kuil itupun dihancurkan.

“Ceritera tentang Sang Naga itu jelas bersifat legendaris. Bersama dengan Tobit, Judith dan Susanna, ceritera-ceritera ini dapat dikategorikan sebagai semata-mata ceritera khayalan Yahudi. Kalaupun ada, ceritera-ceritera ini memuat hanya sedikit nilai agamawi.

Nyanyian Tiga Anak Ibrani dikembangkan berdasarkan Daniel 3:23 dalam Septuaginta dan Vulgata. Dengan mencomot Mazmur 148, dengan nada berbalas-balasan seperti Mazmur 136, kitab ini mempunyai koor 32 kali: ‘Nyanyikan pujian bagi-Nya dan tinggikan Dia selama-lamanya.’

Doa Manasye dikarang pada zaman Makabe (abad ke-2 S.M.) dianggap sebagai doa Manasye, raja Yehuda yang lalim itu. Hal ini disarankan dengan jelas dalam pernyataan yang terdapat pada II Tawarikh  33:19 – ‘Doanya dan pengabulan doanya . . . sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam riwayat para pelihat.’ Karena doa ini tidak ditemukan dalam Alkitab, ahli kitab tertentu harus menciptakan kekurangan itu!

I Makabe (abad ke-1 S.M.) mungkin buku paling bernilai di antara semua Apokrifa. Alasannya adalah bahwa kitab ini melukiskan kecemerlangan perjuangan tiga bersaudara Makabe – Yudas, Yonatan, dan Simon. Bersama karya Josephus, kitab ini merupakan sumber sejarah terpenting bagi kita untuk kurun waktu yang demikian menentukan dan mengasyikkan dari sejarah bangsa Yahudi ini.

II Makabe (saat yang sama) bukan merupakan lanjutan I Makabe, melainkan catatan tentang kisah-kisah yang sejajar dengan peristiwa-peristiwa dalam I Makabe, namun hanya mencatat kemenangan-kemenangan Yudas Makabeus. Pada umumnya dipahami bahwa II Makabe ini lebih bersifat legendaris dibanding I Makabe.”

Kesaksian Historis Penolakan Kitab-kitab Apokrifa
Geisler dan Nix memberikan daftar 10 kesaksian purbakala yang menentang penerimaan Apokrifa sebagai Kitab Suci:

1. “Philo, filsuf Yahudi dari Iskandariyah (20 S.M. – 40 M.), banyak mengutip Perjanjian Lama dan bahkan mengakui pembagiannya ke dalam tiga kelompok itu, tetapi dia tidak pernah mengutip dari kitab-kitab Apokrifa sebagai kitab yang diwahyukan.

2. “Josephus (30-100 M.), seorang sejarawan Yahudi, secara eksplisit menyingkirkan Apokrifa, menghitung Kitab Perjanjian Lama sebanyak 22. Dia juga tidak mengutip kitab-kitab ini sebagai Kitab Suci.

3. “Yesus dan penulis-penulis Perjanjian Baru sama sekali tidak pernah mengutip kitab Apokrifa walaupun ada ratusan kutipan dan referensi kepada hampir semua kitab kanonik Perjanjian Lama.

4. “Para cendekiawan Yahudi dari Jamnia (90 M.) tidak mengakui Apokrifa.

5. “Tidak ada kanon maupun konsili gereja Kristen yang diadakan pada empat abad pertama yang mengakui Apokrifa sebagai kitab yang diwahyukan.

6. “Banyak di antara Bapa gereja pada abad awal berbicara lantang dalam menentang Apokrifa, misalnya, Origen, Cyril dari Yerusalem, dan Athanasius.

7. “Jerome (340-420 M.), cendekiawan besar dan penerjemah Vulgata, menolak Apokrifa sebagai bagian dari kanon. Ia mempersoalkan hal itu dengan Agustinus sampai rela menyeberangi Laut Tengah. Pertama-tama ia bahkan menolak untuk menerjemahkan kitab-kitab Apokrifa ke dalam bahasa Latin, namun kemudian ia menerjemahkan dengan tergesa-gesa beberapa di antaranya. Sesudah ia mangkat, dan secara hurufiah “di atas jenazahnya,” kitab-kitab Apokrifa dimasukkan ke dalam Vulgata Latin hasil karyanya yang diterjemahkan langsung dari Versi Latin Kuno.

8. “Banyak cendekiawan Katolik Roma selama masa Reformasi menolak Apokrifa.

9. “Luther dan para Reformator lainnya menolak pengkanonan Apokrifa.

10. “Baru pada tahun 1546 M., dalam suatu tindakan polemik di Konsili Melawan Reformasi di Trent, kitab-kitab Apokrifa menerima status pengkanonan penuh dari Gereja Katolik Roma.”

 

Up ]

© 1999-2000 Campus Crusade for Christ International

Last Updated: 11 July, 2006