PENYIAPAN
ALKITAB
Banyak orang telah mempertanyakan latar belakang Alkitab, pembagiannya dan
materi yang dipakai untuk menghasilkannya. Bagian ini akan menolong
Saudara untuk memahami penyusunan, dan saya rasa,
akan memberikan kesadaran kepada para pembaca untuk memberikan penghargaan
lebih besar kepada Firman
Allah.
Bahan Tulis yang
Dipakai dalam Penyiapan Kitab Suci
|
|
Papirus.
Karena tidak dapat menyelamatkan banyak naskah kuno (yang
dimaksudkan dengan naskah adalah lembaran Kitab Suci yang ditulis
dengan tangan) pada dasarnya disebabkan oleh karena bahan yang
dipakai menulis itu mudah rusak.
Semua . . .
tulisan tangan, demikian tulisan F.F. Bruce, telah lama
hilang. Tidak mungkin terjadi yang sebaliknya, jika naskah-naskah
itu ditulis pada papirus, karena (sebagaimana yang telah kita
pahami) bahwa hanya dalam keadaan-keadaan yang sangat khusus
papirus dapat bertahan cukup lama.
Kirsopp Lake
menyatakan sulit untuk menyangkali kesimpulan yang mengatakan
bahwa para penulis biasanya menghancurkan lembaran-lembaran contoh
mereka ketika mereka menyalin Kitab-kitab Suci.
Bahan tulis kuno yang lazim dipakai adalah papirus, yang dibuat
dari tanaman papirus. Rumput buluh halus ini banyak tumbuh di
danau-danau yang dangkal dan sungai-sungai yang ada di kawasan
Mesir dan Syria. Papirus ini dikirim dengan kapal laut dalam
jumlah besar melalui pelabuhan Syria bernama Bublos. Diduga bahwa
kata Yunani untuk buku (biblos)
dibentuk dari nama pelabuhan ini. Kata paper
dalam bahasa Inggris berasal dari kata Yunani papyrus.
The Cambridge History of the Bible
memberikan catatan tentang bagaimana papirus dipersiapkan untuk
menjadi bahan tulis:
Rumput buluh halus itu dicabut dan dibelah memanjang sehingga
menjadi lembaran pipih sebelum dipukuli dan ditekan bersama untuk
menjadi dua lapisan yang berposisi tegak lurus satu terhadap
lainnya. Pada waktu sudah kering permukaannya yang keputih-putihan
digosok dengan batu halus atau alat lain sejenisnya. Pliny
menunjuk pada beberapa kualitas papirus, dan ditemukan bahwa ada
variasi yang berhubungan dengan tebalnya maupun kualitas
permukaannya sebelum zaman Kerajaan Baru (sejarah Mesir kuno tahun
1580-1058 S.M.) ketika lembaran-lembaran yang ada seringkali
sangat tipis dan agak tembus cahaya."
Serpihan papirus
tertua yang dikenal manusia diperkirakan berasal dari tahun 2400
S.M. Naskah-naskah paling awal tertulis di atas papirus, dan sulit
untuk bertahan kecuali tersimpan di tempat kering seperti gurun
pasir Mesir atau di gua-gua seperti Gua Qumran tempat ditemukannya
Gulungan Laut Mati. Papirus dipakai secara populer sampai dengan
kira-kira abad ketiga Masehi.
Perkamen.
Nama ini diberikan pada kulit domba, kambing, antilup dan
binatang-binatang lain yang disamak. Kulit ini dicukur dan
dikerok agar dihasilkan bahan tulis yang lebih tahan lama.
F. F. Bruce
menulis bahwa kata perkamen berasal dari nama kota
Pergamum, di Asia Kecil, karena produksi bahan tulis ini pada
suatu saat secara khusus dikaitkan dengan tempat tersebut.
Vellum.
Nama ini diberikan pada kulit anak sapi. Seringkali vellum ini
dicelup pada bahan warna ungu. Beberapa di antara naskah yang kita
miliki saat ini ada dalam bentuk vellum ungu. Tulisan pada vellum
berwarna ini biasanya dibuat dari prada emas atau prada perak.
J. Harold Greenlee
mengatakan bahwa gulungan kitab tertua yang dibuat dari kulit
berasal dari sekitar tahun 1500 S.M.
Ostraka.
Ini adalah bahan tembikar kasar yang pada umumnya dipakai oleh
rakyat kecil. Istilah teknisnya adalah serpihan tembikar dan
ditemukan dalam jumlah sangat besar di Mesir dan Palestina (Ayub
2:8).
Pen besi. Alat
ini dipakai untuk mengukirkan tulisan pada batu.
Lempengan Tanah Liat
dipahat dengan alat tulis tajam lalu dijemur untuk menghasilkan
catatan tetap (Yeremia 17:13; Yehezkiel 4:1). Ini adalah yang
termurah dan merupakan salah satu dari bahan tulis yang paling
tahan lama.
Kayu Berlapis Lilin.
Alat tulis dari besi tajam dipakai untuk mengukirkan tulisan pada
papan kayu yang dilapisi dengan lilin.
|
Alat Tulis yang
Dipakai dalam Penyiapan Kitab Suci
|
|
Pahat.
Alat dari besi dengan ujung pipih untuk mengikis atau melubangi
batu.
Alat Tulis (Stilus) Besi.
Alat bersisi tiga dengan ujung rata, stilus ini dipakai untuk
membuat kesan pada lempengan tanah liat atau lempengan kayu
berlapis lilin.
Pen. Gelagah
runcing dibuat dari batang tanaman air (Juncus
maritimis) sepanjang 6-16 inci, ujungnya dipotong rata dan
pipih berbentuk pahat untuk menghasilkan goresan tebal dan tipis
dengan menggunakan sisi lebar dan sisi tipisnya. Pena buluh ini
dipakai dari awal milenium pertama di Mesopotamia tempat alat itu
telah dipinjam, sementara gagasan tentang pena bulu berasal dari
orang-orang Yunani pada abad ketiga S.M. (Yeremia 8:8).
Pena ini dipakai untuk menulis pada vellum, perkamen dan papirus.
Tinta
biasanya adalah campuran antara arang, getah dan air.
|
Bentuk-bentuk Kuno Kitab Suci
|
Gulungan kitab
Gulungan kitab dibuat dengan cara merekat lempengan-lempengan
papirus, lalu menggulung rangkaian lempengan ini pada sebuah
batang penggulung dari kayu. Ukuran gulungan kitab ini terbatas
karena kesulitan dalam penggunaan gulungan kitab itu. Tulisan
biasanya hanya ditemukan pada salah satu sisi saja. Gulungan kitab
yang bertulisan pada kedua sisinya disebut Opisthograph (Wahyu
5:1). Beberapa gulungan kitab berukuran panjang 144 kaki. Panjang
rata-rata gulungan kitab adalah 20 sampai dengan 35 kaki.
Tidak mengherankan bahwa Callimachus, ahli katalog profesional
buku-buku pada perpustakaan Iskandaryah, berkata buku yang
besar sama dengan kesulitan besar.
Kodeks atau Bentuk kitab
Untuk
mempermudah dalam membaca dan memperkecil ukuran bahan bacaan,
lempengan-lempengan papirus itu disusun dalam bentuk lembaran
serta ditulisi pada kedua sisinya. Greenlee mengatakan bahwa
Kekristenan telah menjadi alasan utama dalam perkembangan bahan
bacaan ke dalam bentuk kodeks atau kitab itu.
Penulis-penulis klasik menggoreskan pena mereka di atas gulungan
papirus sampai sekitar abad ketiga Masehi.
|
Jenis-jenis Tulisan
|
Tulisan Uncial menggunakan huruf-huruf besar yang ditulis
dengan pertimbangan yang dalam dan sangat berhati-hati. Tulisan
ini dikenal sebagai tulisan buku. Vaticanus dan Sinaiticus
adalah naskah dengan tulisan uncial.
Tulisan Minuscule (baca: minaskyul) adalah
tulisan dengan huruf-huruf kecil yang dirangkai satu dengan
yang lain . . . diciptakan untuk menghasilkan buku. Perubahan
ini dimulai pada abad kesembilan Masehi.
Naskah-naskah Yunani ditulis tanpa ada jarak
di antara satu kata dengan kata berikutnya. (Ibrani ditulis tanpa
huruf hidup sampai dengan tahun 900 M. dengan hadirnya
naskah-naskah Massoretis).
Bruce Metzger menjawab orang-orang yang berbicara tentang
kesulitan yang ditimbulkan oleh teks yang tidak berjarak:
Tetapi, tidak harus dipikirkan bahwa hal-hal kabur seperti itu
terjadi seringkali dalam bahasa Yunani. Dalam bahasa itu, memang
itulah peraturannya, dengan sangat sedikit perkecualian, bahwa
kata-kata Yunani asli dapat berakhir hanya dengan sebuah vokal (atau
dengan diftong, vokal rangkap) atau di dalam salah satu dari
ketiga huruf mati berikut ini: v, p, dan s (Nu, Rho dan Sigma).
Selanjutnya, tidak seharusnya diduga bahwa scriptio
continua menyebabkan kesulitan-kesulitan khusus dalam membaca,
karena nampaknya telah menjadi kebiasaan zaman kuno bahwa orang
membaca dengan suara nyaring, bahkan ketika si pembaca sedang
seorang diri. Dengan demikian, walaupun tidak ditemukan jarak di
antara kata-kata yang tertulis itu, dengan mengucapkan apa yang
sedang dibacanya sendiri, suku kata demi suku kata, seseorang
segera terbiasa untuk membaca scriptio
continua.
|
Pembagian Kitab Suci
|
Kitab-kitab
Berikut ini adalah
susunan Perjanjian Lama berdasarkan pengkanonan Yahudi.
Hukum
(Torah)
1.
Kejadian
2.
Keluaran
3.
Imamat
4.
Bilangan
5.
Ulangan |
Sastera
(Ketuvim [
Ibr.] atau Hagiografa
[Yunani] )
A. Kitab
Puisi
1. Mazmur
2. Amsal
3. Ayub |
Para
Nabi (Neviim)
Nabi-nabi Terdahulu
1. Yosua
2. Hakim-hakim
3. Samuel
4. Raja-raja |
Lima
Gulungan Kitab (Megilloth)
1. Kidung
Agung
2. Rut
3. Ratapan
4. Ester
5. Pengkhotbah
|
Nabi-nabi
Kemudian
1. Yesaya
2. Yeremia
3. Yehezkiel
4. Dua Belas Nabi |
Kitab-kitab
Sejarah
1. Daniel
2. Ezra-Nehemia
3. Tawarikh
|
Pasal-pasal
Pembagian
dilakukan pertama kali pada tahun 586 S.M. ketika Pentateukh
dibagi ke dalam 154 kelompok (sedarim).
Lima puluh tahun kemudian pembagian itu disederhanakan ke dalam 54
seksi (parashiyyoth) dan ke dalam 669 segmen lebih kecil lagi untuk
mempermudah pencarian referensi. Ini dipergunakan dalam siklus
pembacaan Alkitab dalam satu tahun.
Orang-orang Yunani
membuat pembagian pada sekitar tahun 250 M. Sistem pembagian
menurut pasal yang tertua berawal pada tahun 350 M. tercantum pada
margin Kodeks Vaticanus. Geisler dan Nix menulis bahwa baru
pada abad ke-13 pembagian ke dalam seksi ini diubah . . . Stephen
Langton, dosen Universitas Paris, yang kemudian menjadi Bisop
Agung Canterbury, membagi Alkitab ke dalam pasal-pasal yang
dipakai sampai zaman moderen ini.
Ayat-ayat
Pada mulanya
penunjuk-penunjuk ayat bervariasi dari jarak antar kata sampai
dengan huruf atau angka. Penunjuk-penunjuk ayat itu secara
universal tidak dipakai secara sistematik. Pembagian Alkitab
berdasarkan ayat pertama-tama dibakukan
sekitar tahun 900 M.
Vulgata dalam bahasa Latin adalah Alkitab
pertama yang menggunakan pembagian ayat dan pasal, baik dalam
Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.
|
|